Emerald Khatulistiwa

Wednesday, October 31, 2012

Zaman Raja-raja di Indonesia


Dalam tulisan ini sengaja saya mengulas beberapa kerajaan besar yang pernah ada di Indonesia, ini tak lain karena berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan ataupun situs-situs yang menjadi tempat objek wisata sekarang yang banyak di kunjungi oleh para wisatawan, semoga dengan sedikit ulasan ini para wisatawan dapat mengetahui asal mulanya dari mana peninggalan atau situs-situs tersebut. Banyak manfaat dan baik untuk pengetahuan dan pendidikan, jadi sambil berwisata kita juga bisa sambil menambah ilmu dan wawasan. Saya akan mengupas sedikit tentang beberapa kerajaan di Indonesia yang memberikan kontribusi yang berarti terhadap devisa negara Indonesia lewat candi-candi yang megah dan situs-situs purbakala.

Candi Borobudur
Di mulai pada abad ke 2 Masehi, sejumlah peradaban yang sangat canggih muncul di Asia Tenggara-peradaban tentang sastra, arsitektur dan organisasi politik yang semuanya berpola pada model India. Kerajaan-kerajaan ini yang terbaik di kenal dengan peninggalan-peninggalan indah yang mereka ciptakan seperti Borobudur, Prambanan, Angkor, Pagan dan lain-lain, banyak yang "di temukan kembali" pada abad ke-19, dan kini telah di kunjungi oleh jutaan wisatawan baik dalam negeri maupun manca negara.


KERAJAAN PERTAMA DAN TERTUA DI INDONESIA
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai di perkirakan muncul pada abad 5 M atau ± 400 M. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong), tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai di ambil dari nama tempat di temukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai di berikan oleh para ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena memang sangat sedikit informasi yang dapat di peroleh akibat kurangnya sumber sejarah.

Keberadaan kerajaan tersebut di ketahui berdasarkan sumber berita yang di temukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk yupa / tiang batu berjumlah 7 buah. Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta tersebut, dapat di simpulkan tentang keberadaan Kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan, antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Prasasti Yupa
Adapun isi prasasti tersebut menyatakan bahwa raja pertama Kerajaan Kutai bernama Kudungga. Ia mempunyai seorang putra bernama Asawarman yang disebut sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga). Setelah meninggal, Asawarman di gantikan oleh Mulawarman. Penggunaan nama Asawarman dan nama-nama raja pada generasi berikutnya menunjukkan telah masuknya pengaruh ajaran Hindu dalam Kerajaan Kutai dan hal tersebut membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah memeluk agama Hindu.

Mulawarman
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila di lihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

Aswawarman
Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga di ketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga di beri gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman. Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa di ketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

Berikut adalah Nama-Nama Raja Kutai:
1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman
2. Maharaja Asmawarman (anak Kundungga)
3. Maharaja Mulawarman
4. Maharaja Marawijaya Warman
5. Maharaja Gajayana Warman
6. Maharaja Tungga Warman
7. Maharaja Jayanaga Warman
8. Maharaja Nalasinga Warman
9. Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia

RUNTUHNYA KERAJAAN KUTAI
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang di sebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

Pengetahuan tentang kerajaan Indonesia awal periode Klasik atau Hindu sangat gelap-catatan sejarah tentang kerajaan tertua ini hanya di peroleh dari prasasti batu tua dan referensi samar dalam teks-teks Cina, India dan klasik kuno. Pulau Jawa, misalnya, di sebutkan dalam Ramayana (sebagai Yawadwipa) dan dalam Almagest dari Ptolemeus (sebagai Yabadiou). Sebagaimana pernah di dapat, referensi spesifik pertama untuk penguasa Indonesia dan kerajaan yang di temukan dalam sumber-sumber Cina tertulis dan batu prasasti sansekerta berasal dari abad ke-5 awal.

Candi Pawon
Prasasti batu (di tulis dalam naskah Pallawa selatan-India), yang di keluarkan oleh penguasa Indonesia di dua daerah yang berbeda di kepulauan-Kutai di pantai timur Kalimantan, dan Tarumanegara di Sungai Citarum di Jawa Barat (dekat Bogor). Kedua penguasa Hindu itu kekuasaannya tampaknya berasal dari kombinasi pertanian padi dan perdagangan maritim.

Juga, di awal abad ke-5, ada sosok menarik dari Fa Hsien, seorang biksu Buddha Tionghoa yang melakukan perjalanan ke India untuk mendapatkan kitab-kitab Buddha dan kemudian terdampar di Jawa dalam perjalanan pulang. Dalam catatannya (di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh James Legge sebagai,A Record of Buddhistic Kingdoms), Fa Hsien mencatat bahwa ada banyak Brahamans dan bidat di Jawa, tetapi bahwa Dharma Buddha ada tidak di sebutkan dalam catatanya.

Fakta lain kehidupan bagi negara Hindu dari Indonesia adalah bahwa kekuasaan mereka sangat bergantung pada kontrol perdagangan maritim. Tampaknya Tarumanegara di Jawa Barat yang pertama menguasai perdagangan selama dua abad atau lebih, tetapi pada akhir abad ke-7 kerajaan Buddha baru yang berbasis di Palembang mengambil alih Malaka dan Selat Sunda Vital. Kerajaan Sriwijaya memerintah sepanjang 600 tahun ke depan.

SRIWIJAYA/SRIVIJAVA
Sriwijaya atau di sebut juga Srivijaya adalah Kerajaan Maritim yang sangat kuat di nusantara pada masanya, daerah kekuasaannya membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Keren banget yah nenek moyang kita, padahal jaman dulu belum ada pesawat, handphone atau kapal yang canggih seperti jaman sekarang, tapi bisa luas begitu kekuasaannya, gimana cara mengontrolnya?Luar biasa, saya sendiri bingung bagaimana bisa mengontrol dan berkomunikasi dengan daerah-daerah jajahannya.

Prasasti Telaga Batu
Nama Sriwijaya dalam bahasa Sansakerta mempunyai arti, Sri artinya "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke 7, seorang pendeta dari Tiongkok, I-Tsing menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 Masehi dan tinggal selama 6 bulan. Di sana ia menemukan seribu biksu Budha dan mencatat bahwa itu adalah tempat pertemuan bagi para pedagang dari seluruh dunia.

Prasasti Kedukan Bukit
Sriwijaya di sebut dalam berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya di sebut juga Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit di temukan. Sementara dari peta Ptolemaeus di temukan keterangan tentang adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.

Raja-raja Sriwijaya yang pernah berkuasa antara lain:
1.Dapunta Hyang atau Sri Jayanasa (671 M).
Berdasarkan Catatan perjalanan I-Tsing di tahun 671-685 M, Penaklukan Malayu, penaklukan Jawa. Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), Kota Kapur (686 M), Karang Brahi dan Palas Pasemah. Ibu kota di Srivijaya atau Shih-li-fo-shih.

2.Sri Indrawarman atau Shih-li-t-'o-pa-mo (702 M).
Berdasarkan Utusan ke Tiongkok 702-716 M, 724 M. Utusan ke Khalifah Muawiyah I dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ibu kota di Srivijaya atau Shih-li-fo-shih.

3.Rudra Vikraman atau Lieou-t’eng-wei-kong (728 M).
Berdasarkan utusan ke Tiongkok 728-742 M. Ibu kota di Srivijaya atau Shih-li-fo-shih.

4.Sri Maharaja (775 M).
Berdasarkan prasasti Ligor B (775 M) di Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand. Ibu kota di Sriwijaya.

5.Balaputradewa (856 M).
Kehilangan kekuasaan di Jawa dan kembali ke Suwarnadwipa. Berdasarkan prasasti Nalanda (860 M)

6.Sri Udayaditya Warmadewa atau Se-li-hou-ta-hia-li-tan (960 M).
Berdasarkan utusan ke Tiongkok tahun 960 M dan 962 M. Ibukota di Sriwijaya atau San-fo-ts’i

7.Sri Cudamani Warmadewa atau Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa (988 M).
Berdasarkan catatan Atisa 990 Jawa menyerang Sriwijaya, utusan ke Tiongkok tahun 988 M, 992 M, 1003 M, pembangunan candi untuk kaisar Cina yang di beri nama cheng tien wan shou. Ibu kota di Malayagiri (Suwarnadwipa)

8.Sri Mara-Vijayottunggawarman atau Se-li-ma-la-pi (1008 M).
Berdasarkan prasasti Leiden dan utusan ke Tiongkok tahun 1008 M. Ibu kota di Kataha atau San-fo-ts’i

9.Sangrama-Vijayotunggawarman (1025 M).
Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawanan. Berdasarkan prasasti Tanjore bertahunkan 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, India.

10.Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1183 M).
Dibwah dinasti Mauli, kerajaan melayu. Berdasarkan prasasti Grahi tahun 1183 M di selatan Thailand.

Raja-raja di atas bukanlah dalam urutan yang pasti hal ini di karenakan terbatasnya peninggalan-peninggalan yang ada sehingga pada tahun-tahun tertentu belum diketahui secara pasti siapa raja yang berkuasa.

Prasasti Padang Roco
di bawah arca Amogaphasa
Selain menjalin hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan tanah Arab, kemungkinan utusan Maharaja Sri Indrawarman yang mengantarkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718 M kembali ke Sriwijaya dengan membawa hadiah Zanji (budak wanita berkulit hitam), dan kemudian dari kronik Tiongkok disebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-'o-pa-mo (Sri Indrawarman) pada tahun 724 M mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa ts'engchi (bermaksud sama dengan Zanji dalam bahasa Arab).

Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan kerajaan Nan Han dengan negeri kayanya Guang Dong. Tak di ragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah:
1.Letaknya yang strategis di jalur perdagangan.
2.Kemajuan pelayaran dan perdagangan antara cina dan india melalui Asia Tenggara.
3.Runtuhnya kerajaan Funan di Indochina, dengan begitu memberikan kesempatan kepada Sriwijaya untuk berkembang menjadi negara maritim menggantikan Funan.
4.Sriwijaya mempunyai kemampuan untuk melindungi pelayaran dan perdagangan di perairan Asia Tenggara.

Prasasti Grahi
Prof O.W. Wolters telah berspekulasi bahwa Sriwijaya menjadi terkenal sebagai hasil dari substitusi dari beberapa aromatik Sumatera untuk ekspansif Timur Tengah berupa kemenyan dan mur-yang di sebut-barang persia, kemudian di kirim ke Cina dalam jumlah besar. Tapi itu mungkin karena Sriwijaya juga terletak di posisi yang sangat strategis dan di katakan telah mengembangkan kapal besar antara 400 dan 600 ton. Ini adalah kapal terbesar pada masanya, dan mereka tampaknya telah mencapai penjualan regular langsung ke India Dan Cina oleh setidaknya akhir abad ke-8.

KERAJAAN SANJAYA
Wangsa Sanjaya adalah wangsa atau dinasti yang sebagian besar rajanya menganut agama Hindu, yang di kenal sebagai pendiri Kerajaan Medang (Mataram Kuno). Wangsa ini menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjaradari di daerah India. Menurut Prasasti Canggal, wangsa ini di dirikan pada tahun 732 M oleh Sanjaya. Tak banyak yang di ketahui pada masa-masa awal Wangsa Sanjaya.

Para Sailendras mempertahankan hubungan dekatnya dengan Sriwijaya (baik penguasa penganut agama Budha) dan memerintah Jawa selama sekitar 100 tahun. Selama periode yang relatif singkat mereka membangun peninggalan-peninggalan yang megah seperti candi Borobudur, Mendut, Kalasan, Sewu dan banyak lainnya.

Raja-raja wangsa Sanjaya adalah:
1. Ratu Sanjaya.
Ratu Sanjaya alias Rakai Mataram menempati urutan pertama dalam daftar para raja Kerajaan Medang versi prasasti Mantyasih, yaitu prasasti yang di keluarkan oleh Maharaja Dyah Balitung tahun 907. Bukti-bukti peninggalan Sanjaya terdapat di  prasasti Canggal tanggal 6 Oktober 732 tentang pendirian sebuah lingga serta bangunan candi untuk memuja Siwa di atas sebuah bukit. Candi tersebut kini hanya tinggal puing-puing reruntuhannya saja, yang di temukan di atas Gunung Wukir, dekat Kedu.

2. Rakai Pikatan.
Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Wangsa Sanjaya, menikah dengan Pramodhawardhani (833-856 M), puteri raja Wangsa Syailendara Samaratungga. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan Agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan mendepak Raja Balaputradewa, dan pada tahun 850 M, Wangsa Sanjaya kembali menjadi satu-satunya penguasa Mataram. Prasasti Wantil disebut juga prasasti Siwagreha yang di keluarkan pada tanggal 12 November 856 M. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha, yang di terjemahkan sebagai Candi Siwa.

Berdasarkan ciri-ciri yang di gambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplek Candi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut di bangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.

Prasasti Canggal juga mengisahkan bahwa, sebelum Sanjaya bertakhta sudah ada raja lain bernama Sanna yang memerintah Pulau Jawa dengan adil dan bijaksana. Sepeninggal Sanna keadaan menjadi kacau. Sanjaya putra Sannaha (saudara perempuan Sanna) kemudian tampil sebagai raja. Pulau Jawa pun tentram kembali.

3. Rakai Kayuwangi.
Sebenarnya kurang tepat apabila Rakai Kayuwangi di sebut sebagai raja Kerajaan Mataram karena menurut prasasti Wantil, saat itu istana Kerajaan Medang tidak lagi berada di daerah Mataram, melainkan sudah di pindahkan oleh Rakai Pikatan (raja sebelumnya) ke daerah Mamrati, dan di beri nama Mamratipura.

Rakai Kayuwangi adalah putra bungsu Rakai Pikatan yang lahir dari permaisuri Pramodawardhani. Nama aslinya adalah Dyah Lokapala (prasasti Wantil) atau Mpu Lokapala (prasasti Argapura). Menurut prasasti Wantil atau prasasti Siwagerha tanggal 12 November 856, Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Sang Jatiningrat (gelar Rakai Pikatan sebagai brahmana). Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini di dasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, yang bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka.

Teori populer menyebut nama musuh tersebut adalah Balaputradewa karena pada prasasti Wantil terdapat istilah walaputra. Namun, sejarawan Buchari tidak menjumpai prasasti atas nama Balaputradewa pada situs bukit Ratu Baka, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Adapun makna istilah walaputra adalah putra bungsu, yaitu julukan untuk Dyah Lokapala yang berhasil menumpas musuh ayahnya tersebut.

Jadi, pada akhir pemerintahan Rakai Pikatan terjadi pemberontakan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri Wangsa Sanjaya. Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala alias Sang Walaputra, sehingga ia mendapat dukungan rakyat untuk naik takhta menggantikan ayahnya. Teori pemberontakan Rakai Walaing ini telah membantah teori populer tentang adanya perang saudara antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani dan Rakai Pikatan sepeninggal Samarottungga.

4. Rakai Watuhumalang.
Menurut daftar para raja Kerajaan Medang dalam prasasti Mantyasih, Rakai Watuhumalang menjadi raja kedelapan menggantikan Rakai Kayuwangi. Prasasti tersebut dikeluarkan tahun 907 M oleh Dyah Balitung, yaitu raja sesudah Rakai Watuhumalang. Rakai Watuhumalang sendiri tidak meninggalkan prasasti atas nama dirinya. Sementara itu prasasti Panunggalan tanggal 19 November 896 M menyebut adanya tokoh bernama Sang Watuhumalang Mpu Teguh, namun tidak bergelar maharaja, melainkan hanya bergelar haji (raja bawahan).

Tidak dapat di pastikan apakah Mpu Teguh identik dengan Rakai Watuhumalang. Apabila keduanya benar-benar tokoh yang sama, maka dapat dibayangkan bahwa masa pemerintahan Rakai Watuhumalamg sangat singkat. Pada tahun 896 M ia masih menjadi raja bawahan, sedangkan pada tahun 899 (prasasti Telahap) yang menjadi raja sudah bernama Dyah Balitung.

5. Rakai Watukura Dyah Balitung.
Dyah Balitung berhasil naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya. Kemungkinan besar raja tersebut adalah Rakai Watuhumalang yang menurut prasasti Mantyasih memerintah sebelum Balitung. Mungkin alasan Dyah Balitung bisa naik takhta bukan hanya itu, mengingat raja sebelumnya ternyata juga memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap). Alasan lain yang menunjang ialah keadaan Kerajaan Medang sepeninggal Rakai Kayuwangi mengalami perpecahan, yaitu dengan ditemukannya prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi dan prasasti Poh Dulur atas nama Rakai Limus Dyah Dewendra.

Jadi, kemungkinan besar Dyah Balitung yang merupakan menantu Rakai Watuhumalang (raja Medang pengganti Rakai Kayuwangi) berhasil menjadi pahlawan dengan menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga kembali mengakui kekuasaan tunggal di Kerajaan Medang. Maka, sepeninggal Rakai Watuhumalang, rakyat pun memilih Balitung sebagai raja dari pada iparnya, yaitu Mpu Daksa. Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, istana Kerajaan Medang tidak lagi berada di daerah Mataram, ataupun Mamrati, melainkan sudah di pindahkan ke daerah Poh Pitu yang di beri nama Yawapura.

Hal ini di mungkinkan karena istana Mamratipura (yang dulu dibangun oleh Rakai Pikatan) telah rusak akibat perang saudara antara Rakai Kayuwangi melawan Rakai Gurunwangi. Prasasti tertua atas nama Balitung yang berhasil di temukan adalah prasasti Telahap tanggal 11 September 899 M. Namun bukan berarti ini adalah prasasti pertamanya, atau dengan kata lain, bisa jadi Balitung sudah naik takhta sebelum tahun 899 M.

Di susul kemudian prasasti Watukura tanggal 27 Juli 902 M. Prasasti tersebut adalah prasasti tertua yang menyebutkan adanya jabatan Rakryan Kanuruhan, yaitu semacam jabatan perdana menteri. Sementara itu jabatan Rakryan Mapatih pada zaman Balitung merupakan jabatan putra mahkota yang dipegang oleh Mpu Daksa.

Prasasti Telang tanggal 11 Januari 904 M berisi tentang pembangunan komplek penyeberangan bernama Paparahuan yang di pimpin oleh Rakai Welar Mpu Sudarsana di tepi Bengawan Solo. Balitung membebaskan pajak desa-desa sekitar Paparahuan dan melarang para penduduknya untuk memungut upah dari para penyeberang.

Prasasti Poh tanggal 17 Juli 905 M berisi pembebasan pajak desa Poh untuk ditugasi mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silunglung peninggalan raja sebelumnya yang di makamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Raja ini merupakan kakek dari Mpu Daksa dan permaisuri Balitung. Prasasti Kubu-Kubu tanggal 17 Oktober 905 M berisi anugerah desa Kubu-Kubu kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan karena keduanya berjasa memimpin penaklukan daerah Bantan. Beberapa sejarawan menafsirkan Bantan sebagai nama lain dari Bali. Istilah Bantan artinya korban, sedangkan Bali artinya persembahan.

Prasasti Mantyasih tanggal 11 April 907 M berisi tentang anugerah kepada lima orang patih bawahan yang berjasa dalam menjaga keamanan saat pernikahan Dyah Balitung. Dalam prasasti ini di sebutkan pula urutan raja-raja Medang yang memerintah sebelum dirinya. Pada tahun 907 M tersebut Balitung juga memberikan desa Rukam sebagai hadiah untuk neneknya yang bernama Rakryan Sanjiwana dengan tugas merawat bangunan suci di Limwung.

6. Mpu Daksa.
Mpu Daksa naik takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Hubungan kekerabatan ini berdasarkan bukti bahwa Daksa sering disebut namanya bersamaan dengan istri Balitung dalam beberapa prasasti. Selain itu juga diperkuat dengan analisis sejarawan Boechari terhadap berita Cina dari Dinasti Tang berbunyi Tat So Kan Hiung, yang artinya "Daksa, saudara raja yang gagah berani".

Dyah Balitung di perkirakan naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya, sehingga secara otomatis Mpu Daksa pun disebut sebagai putra raja tersebut. Kemungkinan besar raja itu ialah Rakai Watuhumalang yang memerintah sebelum Balitung menurut prasasti Mantyasih. Menurut prasasti Telahap, Mpu Daksa adalah cucu dari Rakryan Watan Mpu Tamer, yang merupakan seorang istri raja yang di makamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Dengan demikian, Daksa dapat disebut sebagai cucu dari Rakai Pikatan. Prasasti Plaosan yang di keluarkan oleh Rakai Pikatan juga menyebut adanya tokoh bernama Sang Kalungwarak Mpu Daksa.

7. Rakai Layang Dyah Tulodhong.
Dyah Tulodhong di anggap naik takhta menggantikan Mpu Daksa. Dalam prasasti Ritihang yang di keluarkan oleh Mpu Daksa terdapat tokoh Rakryan Layang namun nama aslinya tidak terbaca. Di tinjau dari ciri-cirinya, tokoh Rakryan Layang ini seorang wanita berkedudukan tinggi, jadi tidak mungkin sama dengan Dyah Tulodhong. Mungkin Rakryan Layang adalah putri Mpu Daksa. Dyah Tulodhong berhasil menikahinya sehingga ia pun ikut mendapatkan gelar Rakai Layang, bahkan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Mpu Daksa.

Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodhong disebut sebagai putra dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil. Prasasti Lintakan tanggal 12 Juli 919 M adalah prasasti tertua yang pernah di temukan dengan menyebut Tulodhong sebagai raja. Dalam pemerintahannya, yang menduduki jabatan Rakryan Mapatih Hino bernama Mpu Ketuwijaya yang juga bergelar Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti. Sedangkan yang menjabat Rakryan Halu adalah Mpu Sindok.

Prasasti Harinjing Tanggal 19 September 921 M berisi pengukuhan anugerah untuk anak-anak Bhagawanta Bhari yang berjumlah 12 orang dan tersebar di mana-mana. Bhagawanta Bhari adalah tokoh yang berjasa membangun bendungan pencegah banjir. Ia sendiri telah mendapat anugerah dari raja sebelumnya. Prasasti untuk anak-anak Bhagawanta Bhari diperbaharui lagi pada tanggal 7 Maret 927 M, di mana mereka mendapatkan desa Culanggi sebagai sima swatantra (daerah bebas pajak). Pembaharuan tersebut di lakukan oleh Rakai Hino Mpu Ketuwijaya, atas saran dari Rakai Sumba yang menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah.

8. Rakai Sumba Dyah Wawa.
Dyah Wawa naik takhta menggantikan Dyah Tulodhong. Nama Rakai Sumba tercatat dalam prasasti Culanggi tanggal 7 Maret 927, menjabat menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, yaitu semacam pegawai pengadilan. Selain bergelar Rakai Sumba, Dyah Wawa juga bergelar Rakai Pangkaja. Dyah Wawa tidak memiliki hak atas takhta Dyah Tulodhong. Sejarawan Boechari berpendapat bahwa Dyah Wawa melakukan kudeta merebut takhta Kerajaan Medang.

Kemungkinan besar kudeta yang di lakukan oleh Dyah Wawa mendapat bantuan dari Mpu Sindok, yang naik pangkat menjadi Rakryan Mapatih Hino. Sebelumnya, yaitu pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong, Mpu Sindok menjabat sebagai Rakryan Halu, sedangkan Rakai Hino dijabat oleh Mpu Ketuwijaya. Peninggalan sejarah Dyah Wawa berupa prasasti Sangguran tanggal 2 Agustus 928 M tentang penetapan desa Sangguran sebagai sima swatantra (daerah bebas pajak) agar penduduknya ikut serta merawat bangunan suci di daerah Kajurugusalyan.

KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari adalah sebuah kerajaan Hindu Buddha di Jawa Timur yang di dirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M. Lokasi kerajaan ini sekarang di perkirakan di daerah Singosari, Malang. Kerajaan Singasari hanya sempat bertahan 70 tahun sebelum mengalami keruntuhan. Kerajaan ini beribu kota di Tumapel yang terletak di kawasan bernama Kutaraja. Pada awalnya, Tumapel hanyalah sebuah wilayah kabupaten yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kadiri dengan bupati bernama Tunggul Ametung. Tunggul Ametung di bunuh oleh Ken Arok yang merupakan pengawalnya.

Keberadaan Kerajaan Singosari di buktikan melalui candi-candi yang banyak di temukan di Jawa Timur yaitu daerah Singosari sampai Malang, juga melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Singosari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh keajaiban.

Patung Ken Dedes istri dari Ken Arok
Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng tetapi dari kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat di ketahui. Sebelum menjadi raja, Ken Arok berkedudukan sebagai Akuwu (Bupati) di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang di bunuhnya, karena tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung. Selanjutnya ia berkeinginan melepaskan Tumapel dari kekuasaan kerajaan Kadiri yang di perintah oleh Kertajaya.

Keinginannya terpenuhi setelah kaum Brahmana Kadiri meminta perlindungannya. Dengan alasan tersebut, maka tahun 1222 M /1144 C Ken Arok menyerang Kediri, sehingga Kertajaya mengalami kekalahan pada pertempuran di desa Ganter. Ken Arok yang mengangkat dirinya sebagai raja Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Beberapa raja yang memerintah Kerajaan Singasari di antaranya :
1. Ken Arok (1222–1227 M).
Pendiri Kerajaan Singasari adalah Ken Arok yang sekaligus juga menjadi Raja Singasari yang pertama dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227 M). Pada tahun 1227 M, Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok di makamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa–Buddha.

2. Anusapati (1227–1248 M).
Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam. Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa (tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.

3. Tohjoyo (1248 M).
Dengan meninggalnya Anusapati maka tahta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.

4. Ranggawuni (1248–1268 M).
Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 M dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari. Pada tahun 1254 M Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.

5. Kertanegara (1268-1292 M).
Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia di bantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja. Setelah Jawa dapat di selesaikan, kemudian perhatian di tujukan ke daerah lain. Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang di kenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini di tandai dengan pengirimkan Arca Amoghapasa ke Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara.

Candi Kidal
Berdasarkan segi budaya, di temukan candi-candi dan patung-patung diantaranya candi Kidal, candi Jago, dan candi Singasari. Sedangkan patung-patung yang di temukan adalah patung Ken Dedes sebagai Dewa Prajnaparamita lambing kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara dalam wujud patung Joko Dolog, dan patung Amoghapasa juga merupakan perwujudan Kertanegara (kedua patung kertanegara baik patung Joko Dolog maupun Amoghapasa menyatakan bahwa Kertanegara menganut agama Buddha beraliran Tantrayana).

KEMULIAAN MAJAPAHIT
Majapahit adalah kerajaan pertama yang benar-benar mencakup seluruh kepulauan Indonesia. Kemudian penguasa Jawa, kuno dan modern, selalu memandang kerajaan ini sebagai pendahulu mereka dalam spiritual dan politik. Majapahit mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-14 di bawah kekuasaan Wijaya cucu Hayam Wuruk (di sebut juga Rajasanagara) dengan perdana menterinya yang terkenal bernama Patih Gajah Mada.

Pengetahuan Majapahit berasal dari sebagian prasasti batu yang di temukan di antara ratusan reruntuhan candi, dan dari puisi yang berisi pujian yang di tulis oleh pengadilan penyair Prapanca setelah kematian Gajah Mada pada tahun 1365. Ini berikutnya, yang di kenal sebagai Negarakertagama, mencatat semua jenis rincian menarik tentang pengadilan dan keluarga kerajaan.

Salah satu bagian yang paling penting menyangkut sumpah diambil oleh Gajah Mada (yang disebut sumpah palapa) untuk membawa semua pulau-pulau utama Nusantara (Nusantara atau "pulau-pulau lain"), di bawah kendali Majapahit. Hal ini di katakan oleh Gajah Mada, namun sejarawan merasa bahwa penaklukan Nusantara benar-benar terlibat semacam federasi perdagangan dengan Majapahit sebagai mitra yang dominan.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina.

Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin di akibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.

1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
5. Wikramawardhana (1389 - 1429)
6. Suhita (1429 - 1447)
7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
8. Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
10. Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
11. Bhre Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518)[24]

Candi Prambanan
Penurunan Majapahit di rasakan setelah kematian Hayam Wuruk pada tahun 1389. Dalam upaya sia-sia untuk mencegah konflik saudara tak terelakkan. Hayam Wuruk telah di bagi kerajaannya antara putra dan putrinya. Namun, perjuangan untuk supremasi meledak menjadi perang saudara antara 1.403 dan 1406 dan meskipun negara itu bersatu kembali pada tahun tahun1429. Tetapi Majapahit pada saat itu telah kehilangan kendali di bagian barat Laut Jawa dan selat Malaka dengan adanya kerajaan Islam yang baru. Menjelang akhir abad ke-15, Majapahit dan Kediri di taklukkan oleh kerajaan Islam yang baru yaitu di Demak di daerah Pantai Utara Jawa, dan di katakan dalam sejarah bahwa para penguasa Hindu-Jawa keseluruhan kemudian melarikan diri ke Bali.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment